Kamis, 20 Maret 2014

Tragedi Tahiti dan timnas Indonesia | Tragedi

Tragedi Tahiti dan timnas Indonesia | Tragedi  


1371795964123993093
Semua pemain dan ofisial Spanyol diberi kalung dari kerang oleh pemain Tahiti sebelum pertandingan (foto FIFA).

Tertawa tapi nelangsa.

Begitulah perasaan saya ketika melihat siaran langsung pertandingan sepak bola Piala Konfederasi Spanyol vs Tahiti. Jauh sebelum Confed Cup ini berlangsung, kita sudah menebak seperti apa penampilan Tahiti. Negara mungil wakil Oseania (OFC) yang berpenduduk 270.000 jiwa. Negara yang tak punya klub bola bagus. Timnas tanpa pemain profesional.

Tapi, dasar sudah kecanduan bola, saya tetap saja bergadang menonton siaran langsung Confed Cup 2013. Hehehe… Tahiti dicukur gundul 10-0. SEPULUH gol tanpa balas.
Kalau pemain-pemain Spanyol serius sih kayaknya 20 gol pun masih kurang. Fernando Torres borong 4 gol, David Silva 2, David Villa 3, Juan Mata 1. Kalau saja penaltinya masuk, ya, Torres bikin 5 gol.

Yah, benar-benar kontras kekuatan dua tim. Spanyol juara dunia, peringkat 1 FIFA, sementara Tahiti peringkat 138. Gaji seorang pemain Spanyol di Barcelona atau Real Madrid mungkin bisa dipakai untuk menggaji semua pemain Tahiti. Lalu, apa yang menarik selain pembantaian yang sempurna di Rio de Janeiro, Jumat Legi, 21 Juni 2013?

Spanyol jelas tidak serius. Lihat saja, 10 pemain yang diturunkan adalah pemain cadangan. Bukan starting XI, kecuali Sergio Ramos. Pola mainnya pun bukan tiki-taka, tapi lebih banyak bola panjang. Tapi ya tetap saja begitu gampang menjinakkan pemain-pemain kelas tarkam (antarkampung) dari Tahiti. Baru lima menit Torres sudah bikin gol. Gol-gol lain pun tinggal menunggu waktu saja.


Awalnya saya ketawa-ketawa sendiri menyaksikan laga yang sangat jomplang dan tidak bermutu ini. Tapi tak lama kemudian nelangsa dan malu. Mengapa? Saya seperti melihat Indonesia di wajah pemain-pemain Tahiti. Postur tubuh, warna kulit, rambut, tinggi badan… mirip banget dengan orang Indonesia. Sepertinya ada kesamaan ras Indonesia dengan Tahiti.
Yang agak beda cuma si Roche, kiper, dan penyerang bernama Chong Hue. Si Chong Hue ini jelas Tionghoa, tapi kulitnya sudah gosong terkena matahari. Bukan potongan khas Tionghoa pengusaha toko atau bos perusahaan di Jawa. Cukup ngotot si Chong Hue bermain, sayang bolanya bisa diserobot dengan muda sama pemain belakang Spanyol.

Selain kesamaan fisik, saya juga khawatir timnas Indonesia bakal mengalami nasib yang sama seperti Haiti, bahkan bisa lebih buruk, jika bertanding di level tinggi. Kalau tidak salah belum lama ini Persibo Bojonegoro dicukur 8-0 dan memilih tidak melanjutkan pertandingan. Timnas pun masih kalah melulu melawan Malaysia, negara yang sebetulnya mirip-mirip Indonesia lah.

Kalau kualitas pemain-pemain bola kita masih seperti sekarang, PSSI tidak kompak, orang-orang bola ribut terus, kompetisi liganya macam-macam dan sering kacau… bukan tak mungkin kita tetap akan jalan di tempat. Masih lumayan Tahiti yang peringkatnya masih jauh di atas Indonesia yang cuma nomor 170.

Selamat melanjutkan nonton bola Piala Konfederasi! Semoga Anda bejo dan tidak masuk angin!

Salam olahraga!

0 komentar:

Posting Komentar

terima kasih yang sudah berkomentar...... =D